Sayang...
Terima kasih kau telah hadir dihidupku sudah satu tahun ini. Kamu masih ingat ? Ketika pertama kali kita bertemu, disalah satu majelis, ya sebut sajalah Majelis Rasulullah SAW. Alloh mempertemukan kita disana sayang. Dan aku sama sekali tidak dipertemukan dengan orang yang salah (lagi). Aku dipertemukan dengan orang yang baik seperti kamu. Aku seharusnya sangat berterima kasih sekali kepada-Nya, karena aku tidak dipertemukan dengan orang yang salah.
Hari demi hari, bulan demi bulan kita lewati bersama. Susah, senang, kamu selalu ada buat aku. Sayang, aku tidak tahu lagi harus mengungkapkan apalagi untuk mengungkapkan rasa sayangku kepadamu. Kamu adalah lelaki terbaik, kamu telah membuatku menjadi kuat dalam menghadapi berbagai hal. Ketika berbicara denganmu, kadang pikiran sangat terbuka untuk menyongsong masa depan yang lebih indah.
Sungguh, ketika aku membuat kau menangis, ada rasa penyesalan dari diri ini. Kenapa aku harus membuatmu menagis dengan ulahku ? Kamu harusnya bahagia, dan aku seharusnya membuatmu bahagia seperti kamu membahagiakan aku. Ketika aku mendengar kamu menagis lewat telpon, sediih rasanya. Tetapi inilah aku. Aku yang selalu mempertahankan egoku, aku yang selalu meninggikan emosiku, dan selalu ku lampiaskan kepadamu. Maafkan aku sayang.
Sayang...
Banyak rencana masa depan yang sudah kita rancang. Tetapi ada sedikit ketakutan jikalau apa yang sudah kita rencanakan tidak ada yang terwujud. Untuk menenangkan itu semua, aku selalu berfikir positif dan selalu semangat untuk bisa menggapai cita-cita kita.
Tetapi...
Keyakinanku padamu sempat tergoyahkan, ketika kamu memutuskan untuk berhenti kuliah. Lalu pada akhirnya, kamu memutuskan untuk kuliah dengan mengambil jurusan yang baru. Dan dengan program belajar selama 4 tahun. Bukan waktu yang sebentar untukku. Mengingat aku sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir tahun ini. Entah mengapa, aku ingin cepat-cepat kamu menjadi suami aku, membina rumah tangga bersama. Tetapi karena keputusan yang sudah kamu buat, okelah aku mencoba untuk menyetujuinya. Berat memang, tetapi, sudahlah. Aku yakin, Alloh punya rencana indah untuk kita, asalkan, disetiap do'a kita, terus terselip kalimat, "mudah-mudahan dia jodohku..."
Sayang...
Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Karena kamu, hidupku jadi lebih indah, lebih semangat, lebih berwarna. Aku selalu berharap bahwa apapun yang kita lakukan sekarang, akan berdampak baik untu kedepannya, dan dipermudah semuanya. Amin :)
Salam Manis dari Kekasihmu,
Nurlayla Kodriyah
20102012 - 01:52 WIB

